Kulit Rambutan Antar Qonita Raih Penghargaan Internasional

admin . Sosok 6198 3 Comments

Qonita Kurnia Anjani

Qonita Kurnia Anjani

Baru saja meraih penghargaan bergengsi internasional. Itulah yang dialami Qonita Kurnia Anjani. Mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin ini adalah penemu kapsul ektrak kulit rambutan sebagai pencetah kanker usus. Penemuannya inilah yang mengharumkan nama Indonesia. Pemudi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) ini meraih medali emas pada kompetisi 8th Europan Exhibition of Creativity and Innovation (Euroinvent) yang digelar di Rumania pada 19-21 Mei 2016 yang lalu.

Pada kompetisi bergengsi tersebut, bersama rekan setimnya Satriyani, keduanya meraih juara I atas penemuannya yang bertajuk “Nepelactobi: Solution for Prevention Colorectal Cancer”. Nepelactobi merupakan produk kulit rambutan yang diekstraksi lalu digabungkan dengan bakteri Lactobacillus Casei yang dibungkus dengan bahan polymer. Bayanganya seperti kapsul tapi bentuknya menyerupai bola dan ukurannya mikro. Bila dilihat secara kasat mata, bentuknya seperti serbuk. Namun, bila dilihat menggunakan mikroskop, produk buatannya itu berupa kapsul yang berbentuk bulat.

Bersama rekan setimnya Satriyani, keduanya meraih juara I atas penemuannya yang bertajuk “Nepelactobi: Solution for Prevention Colorectal Cancer”

Penemuannya yang bertajuk “Nepelactobi: Solution for Prevention Colorectal Cancer” meraih juara I dalam kompetisi 8th Europan Exhibition of Creativity and Innovation (Euroinvent) 2016

Anak pertama pasangan Agus Tahir dan Syukri Nur Aisyah ini membuat produk kesehatannya berupa kapsul. Ia beranggapan, bakteri tidak bertahan lama bila masuk pada tubuh. Bakteri yang awalnya 100 persen, hanya akan tersisa 60 persen sebab biasanya bakteri akan rusak saat berada di lambung. Bakteri tidak tahan pada asam. Dari itu, bakteri dibungkus menyerupai kapsul. Selama proses memasuki tubuh, bakteri telah terlindungi dan diberikan makanan, yakni ekstrak kulit rambutan.

Kepada reporter LINES SULSEL Andi Paramata Anom, Qonita bercerita, awal ia menemukan Nepelactobi saat dirinya menyadari bahwa kulit rambutan memiliki kadar anti oksidan. “Saya memilih kulit buah rambutan karena saya mengetahui bahwa kulit rambutan termasuk kategori antioksidan yang kuat. Nantinya, ini masih memiliki proses yang panjang karena harus melewati uji coba yang biasa disebut kliniks dan prakliniks. Hasil penelitian obat lalu diujicoba pada hewan dan manusia. Jika aman, kemudian lanjut pada tahap selanjutnya,” tutur Qonita.

Qonita mengolah ulang limbah kulit rambutan agar harga bakteri buatannya lebih murah. “Saat ini memang sudah tersedia Lacto B, tetapi harganya cukup mahal,” katanya.

Tidak hanya menghabiskan waktu di laboratiorium, ternyata Qonita juga aktif di berbagai kegiatan organisasi. Ia pernah menjadi Majelis Syuro’ saat bersekolah di MAN Insan Cendekia Gorontalo. Pada 2014, ia terlibat di Pharmacy in Mini-Magazines (PIM). Pada 2014 hingga 2015, ia terpilih menjadi koordinator humas dan Publikasi UKM Keilmiahan Farmasi Unhas. Di tahun yang sama, ia berhasil menjadi staf Departemen Hubungan Luar dan Perkembangan Jaringan BEM Kemafar Unhas. Bahkan, pada 2014 hingga saat ini, ia terpilih menjadi staf ahli pertukaran mahasiswa Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia (Ismafarsi).

Qonita (1)

Prestasi Qonita dimulai saat ini duduk di bangku SMA. Ia pernah mendapat beasiswa di sekolah asrama SMA BJ Habibie di Gorontalo sampai pada akhirnya ia meraih juara I lomba debat konstitusi SJSN tingkat nasional. Prestasi lain, ia menerima hibah Dikti PKM-P, Juara II lomba karya tulis kemaritiman bidang teknologi tingkat nasional di Universitas Hasanuddin, pemakalah di Asia Pacific Students Forum di Universitas Indonesia, Juara II Lomba karya tulis farmakoterapi dan nutrisi tingkat nasional di Universitas Lambung Mangkurat, Juara II lomba karya tulis exist fair tingkat nasional di Universitas Jambi, dan Juara II mahasiswa berprestasi tingkat Universitas Hasanuddin.

Selain itu, ia pernah menjadi pemakalah pada ajang Asia Pacific Students Forum di Universitas Indonesia. Qonita pernah meraih juara III lomba karya tulis inovasi tingkat nasional di Universitas Hasanuddin.

Yang lebih membanggakan, ia meraih honorable mention dan top 5 penelitian terbaik pada World Congress of International Pharmaceutical Student Federation di Hyderabad, India. Qonita juga meraih penghargaan khusus oleh Highly Innovative Unique Foundation (HIUF) in Saudi Arabia. Juga ia meraih medali perak dan penghargaan khusus oleh International Intellectual Property Network Forum (IIPNF) pada Kaohsiung International Design and Exhibition (KIDE) 2015 di Kaohsiung, Taiwan (2015).

Doa Ibu

Qonita bercerita, prestasi yang ia dapatkan selama ini melalui banyak tantangan. “Ketika saya mengikuti lomba di tingkat di Rumania, visa saya bermasalah. Saya meminta doa kedua orangtua saya, terutama ridha dari ibu saya agar semua urusan saya dilancarkan. Dan akhirnya, saat itu juga visa saya bisa terpakai,” kenangnya.

Qonita mengatakan, ia sering meminta doa pada ibu saat mendapat kesusahan dalam hidupnya. Ia yakin, dibalik kesuksesan seseorang pasti ada yang selalu setia memberi motivasi dan doa. “Disetiap kegagalan, pasti ada kesuksesan. Dan semua itu harus diiringi dengan doa dan usaha. Itulah yang kedua orang tua tanamkan kepada saya,” ucap wanita berjilbab ini.

Ia selalu yakin bahwa bila mengejar prestasi akhirat maka prestasi dunia pasti akan mengikut. Nasehat dari ibunya ini selalu ditanamkan dalam diri Qonita.

Manajemen Waktu

Tidak hanya sibuk dalam aktivitas kampus, Qonita tak melupakan kewajiban untuk mencari ilmu agama. Untuk itu, ia menerapkan metode manajemen waktu ditengah aktivitasnya yang padat. Di siang hari ia berkuliah, sedangkan pada malam hari ini mengikuti pengajian, seperti remaja LDII pada umumnya.

Namun terkadang, karena memiliki jadwal kegiatan di laboratorium yang sangat padat, ia mencari waktu lain untuk mengejar ketertinggalannya dalam materi pengajian. “Pemuda yang sukses adalah pemuda yang mampu menyeimbangkan antara prestasi duniawi dan prestasi akhirat,” ujarnya.

Qonita telah duduk di bangku semester akhir ini telah mendapat tawaran bekerja di Irlandia Utara. Namun, syarat untuk diterima cukup berat. Ia harus melewati tes IELTS dan mempresentasikan penemuannya. (LINESSULSEL/APA)

Tags:

Trackback from your site.

Comments (3)

  • Faungki uswanto

    |

    سبہنااللہ
    Tetep semangat mengharumkan nama bangsa

    Reply

  • Abdul. Manaf.chan

    |

    Saya ikut bangga ada Generus LDII yg berprestasi Internasional. Peluangmu masih luas terbuka oleh sebab itu teruslah bekerja keras dgn niat karena Alloh agar karyamu menjadi amal sholeh yg di ambil mamfaat oleh org banyak dan pahalanya akan mengalur terus menerus sampai ilaysumil kiamah. Semoga hatimu terjaga dari sifat Ujub dan kebanggaan bighoirillah. Wassalsm

    Reply

  • Ibnu Ali

    |

    Contoh Generus yg menyukseskan Tri Sukses Generus..Ikut bangga

    Reply

Leave a comment